Tim-Pemalas (Penggemar Mancing Laut Surakarta)

Tim Pemalas, adalah organisasi Terbuka dan Non Profit yang bergerak dalam bidang Mancing Laut dengan tujuan utama untuk : Rekreasi, olahraga, pertemanan dan petualangan. Tim ini dibentuk tidak berdasarkan suku, agama dan ras tetapi berdasarkan hoby yang sama yaitu mancing. Tim Pemalas pertama kali dicetuskan oleh Widodo di Sungai Opak Yogya Desember 2008 saat mancing dengan Eko Budi Kuncoro,dari kedua orang inilah kemudian bergabung beberapa pemancing lainnya sampai sekarang.



Sabtu, 25 September 2010

Arsip-2

Rock-Fishing Trip
Tim PEMALAS ke Pantai Srau, Pacitan, Jawa Timur.
By Eko Budi Kuncoro (Dokumenter tim Pemalas)


Tepat pukul 10 pagi, kami anggota tim PEMALAS (Penggemar Mancing Laut Surakarta) yang terdiri dari saya, Anto, Sen-Sen, Widodo, Ridwan dan dokter bedah senior, Dr Syamsu berangkat dari rumah saya yang menjadi markas tim menuju ke pantai Srau di Pacitan.  Perjalanan dengan menggunakan 2 mobil ini memakan waktu sekitar 3 jam tetapi sampai di rumah pak Suger (pemandu mancing) sekitar jam 2 siang, karena kami harus makan siang dan menambal ban cadangan karena sebelum dipakai ada yang bocor ban mobilnya.

Hot Spot Pantai Srau

Pantai Srau dapat dicapai mulai dari jalan raya Solo-Pacitan, kemudian sekitar  25 km sebelum kota pacitan, maka mobil belok ke kiri sejauh  25 km atau 30 menit perjalanan naik mobil.  Total sekitar 3 jam perjalanan dari Solo dengan jalan sebagian mulus sebagian rusak.
Pantai ini merupakan kombinasi tanjung atau daratan yang menjorok ke laut, dan sebelah sebelah kiri kanannya adalah pantai pasir. Pantai ini dikenal sebagai objek wisata termasuk untuk surfing para wisatawan asing. Pasirnya yang putih menjadikan objek ini menjadi ramai oleh para wisatawan. Sebagai arena mancing karang atau rockfishing, pantai Srau sudah sangat dikenal para mania baik di Solo, Yogya, maupun Pacitan sendiri.  Terdapat 4 pulau kecil yang terletak di selatan pantai. Hampir  semua bagian tebing menjadi incaran para mania mancing.
Lokasi yang akan dipakai untuk mancing tim pemalas adalah  bagian luar berhadapan dengan 3 pulau, seperti terlihat pada peta satelit berikut ini :
Terdapat banyak jenis ikan yang dapat ditarik ke atas tebing diantaranya ikan kampur (Blubberlip snaper) Lutjanus rivulatus, kakap merah, panjo, layur, biji nangka, barakuda, GT atau (pok-an orang Srau menyebutnya), tenggiri dll. Dari foto-foto yang terpampang di rumah pak Suger , pemandu mancing yang bersama kami saat itu, maka kebanyakan ikan kampur dan kakap merah yang terpancing dengan berat sekitar 5-15 kg.  Sesekali ikan GT ukuran 10an kg. Rekor terberat ikan  yang pernah terpancing karangan adalah ikan pari sekitar  35 kg.
Ketinggian tebing pantai terhadap permukaan air laut  berkisar 5-30 meter, sedangkan kedalaman air berkisar 5-20 meter. Spot singkil adalah lokasi yang hendak kami jadikan area mancing mempunyai ketinggian sekitar 7 meter, sedangkan kedalaman air sekitar 15 meter.

Hanya jalan  15 menit !
Sudah sama-sama dipahami, bahwa mancing karangan biasanya membutuhkan fisik yang kuat karena jalannya biasanya naik turun bukit sehingga menghabiskan banyak energi. Tetapi di Srau, kita hanya butuh waktu 15 menit atau sekitar setengah kilometer jarak antara parkiran dengan lokasi mancing. Jangan dibandingkan dengan lokasi seperti di Mahbang, Dengkeng, Sinden atau Ngrenean di Yogyakarta, karena rata-rata jalannya lebih dari 1 jam dan bisa menghabiskan banyak energi.
Jam 4 sore, kami berenam mulai melempar umpan sesetan berupa  ikan kembung dan tongkol untuk menarik ikan-ikan kecil baik dengan pelampung atau mancing dasar. Sekitar setengah jam duduk dipinggir pantai tiba-tiba hujan deras menerpa sekitar pantai. Kamipun berhimpit-himpitan didalam tenda darurat yang dibuat sebelumnya.  Menjelang Magrib, hujan reda dan hanya menyisakan gerimis kecil, rintik-rintik yang tidak menyurutkan kami untuk keluar dan kembali pada posisi semula bertengger di tebing untuk menanti umpan dimakan. Biasanya sehabis hujan ikan justru menjadi lebih bersemangat memakan umpan.
Sampai jam 7 malam hanya 2 ikan kecil yang dapat dinaikkan  yaitu ikan biji nangka oleh Ridwan dan ikan kerapu oleh Dr Syamsu, tetapi ukuranya tidak layak foto karena hanya setelapak tangan atau kurang dari sekilo. Dr syamsu beberapa kali strike ikan besar tatapi tidak dapat hook up dengan sempurna sehingga ikan berhasil lolos. Tepat jam 7 malam, Pak Suger datang membawakan makanan untuk santap  malam. Tanpa dikomando kami menyerbu markas berupa tenda darurat dan melahap semua hidangan sederhana buatan istrinya pak Suger. Enaknya bukan main..begitulah kalau orang sudah lapar…
Sehabis makan bersama, kami kembali ke posisi semula dan sekitar jam 19.49, terjadi strike di joran Sensen terbukti suara drag reel Cando 10.000 berbunyi keras. Tidak kurang dari 5 menit ikan sudah berhasil dinaikkan di permukaan air. Pak Suger dan Ridwan membantu menjangkar ikan, dan hanya butuh waktu 5 menit ikan dapat dijangkar ke darat. Setelah ditimbang  berat ikan kampur perolehan Sensen ini sekitar 8 kg.
Dalam hitungan menit, kemudian naik pula lobster setengah kiloan oleh Ridwan. Lobster ini naik setelah memakan umpan berupa sesetan kecil daging tongkol. Mulai jam 11 malam terlihat ombak semakin besar dan pak suger bilang ini namanya ombak kasar, sehingga sulit untuk mendapatkan ikan. Akhirnya kami sebagian besar tidur di tenda sambil menunggu ombak menjadi lebih halus.
Hanya Dokter Syamsu, saya dan Sensen yang berjaga di depan joran masing-masing. Saat itu mulai banyak terlihat kutu laut atau penduduk sini menyebutnya semut laut. Apapun namanya ini adalah sejenis tungau laut atau kelompok arthropoda yang membuat umpan dasar pasti habis dagingnya dikerubuti hanya dalam hitungan menit. Sehingga lebih  membuat kesal para pemancing karena tentu kami lebih sering mengganti umpan utuh.
Dari sore sampai pagi umpan yang saya pasang hanya habis dimakan kutu laut ini. Apalagi sepertinya struktur dasar di depan saya nongkrong adalah pasir, terbukti tidak ada kasus umpan dasaran tersangkut. Hal ini berarti saya mancing bukan di koloni ikan atau struktur karang. Sebenarnya saya mau pindah tempat, tetapi saya lebih memilih factor keselamatan. Karena sangat fatal mancing di tebing karang berpindah-pindah di malam hari. Saya pernah mempunyai pengalaman buruk rockfishing di Sundak, Gunung Kidul , Yogyakarta dimana saat pindah, salah satu kaki saya masuk di lubang sedalam 1 meter, sehingga lecet-lecet kaki saya. Saya tidak mau terantuk dua kali.
Sampai pagi menjelang, tidak ada tambahan berarti kecuali ikan-ikan kecil kurang dari satu kilo. Menjelang pagi, kami main lagi dengan umpan sesetan karena ikan –ikan besar tentu sudah tidak mau lagi memakan umpan utuh kami. Kejadian yang kurang mengenakkan terjadi karena pancing Ridwan termasuk joran, reel, senar dan tentu ikan besar, karena berhasil menariknya masuk ke laut. Setelah sekian lama dijangkar  dan dibantu pak Suger tetap saja joran beserta peralatannya belum juga ketemu. Hal ini tentu menjadi pelajaran bagi kami, karena begitu under estimate atau meremehkan kemampuan ikan , buktinya ikan mampu menarik jatuh joran yang ditaruh sembarangan di bibir pantai. Sebaiknya memang joran ditali dengan bebatuan tebing sehingga saat jatuh masih ada tali pengamannya.
Sampai jam 12 siang sudah tidak ada lagi ikan yang dapat dinaikkan sehingga kami memutuskan untuk pulang saja. Sebelum pulang kami berfoto bersama di pinggir pantai pasir dengan perolehan ikan kampur 8 kg. Hasil ini sebenarnya kurang memuaskan, tetapi kami berjanji untuk mancing lagi di Pacitan , tidak di Srau tetapi di  timur teluk Pacitan karena menurut pak Suger kedalaman air lebih dari 30 meter. Tunggu saja tanggal mainnya.


































1 komentar: